"Jadi guru itu hatinya harus lapang dan luas"
Bagaimanapun juga profesi guru berhubungan erat sama orang lain. Jelas, profesi ini termasuk dalam bidang jasa yang urusannya sama orang banyak. Kebayang nggak, kalau tiba-tiba kita marah padahal posisinya harus menenangkan. Kita mengikuti emosi sesaat saja yang bisa merusak hubungan selama waktu yang gak bisa ditentukan. Akhirnya emosi yang sudah kita keluarkan sia-sia, kan? Makanya, benar adanya kalau menjadi guru perlu pengelolaan emosi yang baik. Bayangkan lagi, misal kita masih bicara baik dan sopan, mengungkapkan emosi dengan tetap tenang. Gak ada relasi hubungan yang dikorbankan, gak ada pula emosi yang terbuang. Semua disikapi dengan cara yang tenang.
Gak, sangat gak mudah sama sekali. Butuh waktu untuk bisa tenang di tengah amarah. Akan ada kemungkinan ketenangan kita nggak disambut baik dan memunculkan amarah lain. Terus gimana? Paling enggak kita sudah berusaha semampu dan sebaik yang kita bisa, selebihnya bukan kehendak kita atas respon orang lain. Tetap enjoy dan waras. Karena "Jadi guru itu hatinya harus lapang dan luas." 😄
Masih lanjut yaa adik-adik jurusan pendidikan, mbak-mas guru muda. Ehe.
"Pernah gak ketemu sama anak yang muntah di kelas, belum bisa buang air kecil dan besar sendiri, belum bisa makan sendiri?"
Tentu saja, pernah :)
Sebagai guru muda yang lulus kuliah langsung memutuskan untuk mengajar, di umur yang 'segini' dan gak nyangka dapat kesempatannya mengajar di SD, um, gak sanggup awalnya. Ditambah belum suka sama anak-anak. Pikirku, lulus kuliah, dapat kerja mengajar di SMP atau SMA sebagai guru Bahasa Inggris. Mengajar remaja dan bukan anak-anak. Tapi, tidak begitu semesta merancangnya. Hahaha.
Dihadapkan sama anak kicil yang belum tau caranya makan sendiri, sana-sini berantakan. Emosyi cyin. 1-10 sebelnya udah di angka 11. Kacau banget 😂. Dari situ belajar buat pelan-pelan menuntun dia untuk pegang sendok di tangan kanan, makan dengan hati-hati, dan merapikan bekas makanan yang tersisa. Bukan cuma mengajar pelajaran, juga mengajar cara bertahan hidup yang paling dasar, makan. Lalu, ada juga anak yang belum bisa buang air kecil dan besar secara mandiri. Aku langsung ingat teman seperjuangan di kampus, yang jurusan PG PAUD, pasti yang dia temui lebih-lebih dari ini. Okay, di kasus itu aku pun belajar dari nol buat nemenin si anak ke toilet, sampai dia sadar bahwa hal basic itu harus dia kuasai sedari dini. Ada juga anak yang spontan muntah di kelas, tanpa aba-aba, langsung keluar saja begitu. Sebagai guru kelasnya rasanya mau nangis saat itu juga. Harus apa dan harus gimana? Emosi sudah memuncak, karna kondisinya pun sedang jam belajar. Tapi tetap harus enjoy, "oh, mungkin si anak sedang kurang enak badan atau sarapannya kebanyakan." Tetap, sikapi dengan tenang. Kejadian kayak gitu sangat nggak terduga. Ampun deh rasanya mau nyerah. Huhu.
Lalu, saat banyak hal nggak enak terlewati. Hari-hari berganti. Aku mengajar sekaligus belajar. Bahagia banget kalau anak muridku bisa ini-itu. Mereka anak-anak yang tulus, hatinya masih bersih, jujur. Aku belajar banyak dari mereka. Anak kelas 1 dan 2 SD yang proses tumbuh kembangnya ternyata seseru itu. Walaupun karakternya beda antara satu anak dengan anak yang lain, tapi anak-anak tetap senang atas pujian sekecil apapun. Aku belajar untuk memberikan apresiasi atas setiap progress anak-anak muridku. Senyumnya yang mengembang, sikapnya yang seolah ingin terus dekat dengan kita sebagai orang tua mereka di sekolah, bahkan tangisnya, dan segala pencapaian mereka atas usaha mereka sendiri. Mata mereka gak bisa bohong. Bahagianya tulus, sungguh. Di situasi seperti itu rasanya haru. Keinginan menyerah hilang sudah. Tergantikan dengan rasa puas, lega. Sederhana tapi bahagia yang tadinya cuma 5 bisa jadi 100. Hari-hari yang tadinya kusut jadi lebih hidup. Warna yang sebelumnya kelabu jadi cerah kembali, merah muda, kuning, oranye, aku merasa kembali hidup. Seperti menemukan makna hidupku sendiri. Menjadi salah satu sumber ilmu dan bahagia anak muridku, menyerap kesederhanaan hati dan emosi dari mereka, pun menjadi yang bermanfaat untuk banyak orang.
Bahagiakah ada di profesi ini? Aku akan tetap menjawab "Iya."
Biar warna kelabu tetap jadi bagiannya, nanti cerahnya hari akan ditemui.
Lain waktu mungkin aku akan banyak cerita lagi tentang pengalaman pekerjaan guru ini. Hihi.
Terima kasih sudah membaca 😊
Komentar
Posting Komentar