Pengalaman Jadi Guru SD

Guru adalah sebuah profesi yang mulia. Pekerjaan yang dilakukan dengan balasan yang gak cuma berupa gaji, tapi juga pahala. Insya Allah. Ikhlas, sabar, tekun. Tiga kata itu cukup untuk jadi gambaran karakter profesi mulia ini. Bahkan sebagian orang menilai kalau mau jadi guru ya musti punya nilai karakter yang bagus dulu, alias tanpa celah. Sempurna ceunah. Hahaha.

Kalau dipikir lagi, apa iya guru harus sempurna dalam segala aspek? Sampai nggak lagi dilihat sebagai manusia, karna kan katanya setiap hari performanya harus paripurna. Huehehe. Langsung mulai aja deh pembahasan suka-duka selama aku mengajar SD, yang kurang lebih terhitung sudah 2 tahun aku jalani sampai sekarang.

Hola! Kenalan dulu kali ya sama aku yang di sekolah. Hihi. Karena kerja di sekolah kan punya panggilan yang macem-macem, kadang lucu, unik, sampe yang standar-standar aja. Aku dipanggil "Miss Dwi" sama murid-muridku dan rekan-rekan guru atau kalau sama yang umurnya lebih kecil, sekitar kelas 1-2 biasanya "Miss Uwi." Kebetulan aku fokus mengajar kelas 1 dan 2, di salah satu Sekolah Dasar Swasta di Tangerang Selatan. Kebayang gak sih gimana repotnya ngajarin anak-anak yang masih dalam masa peralihan dari TK ke SD. Mejikuhibiniu deh rasanya. Hehe. Tapi sebanding kok antara capek dan senyum penuh kelegaan yang jadi warna setiap harinya.

Benar-benar penuh warna-warni.

Mulai dari warna kelabu, gelap, pokoknya yang nggak enaknya dulu yaa. Hihi. Okay, tadi aku sudah tegaskan kalau aku fokus mengajar di tingat 1 dan 2, jadi aku lebih banyak interaksi sama wali murid (walmur) untuk tugas dan review perkembangan anak. Apalagi di masa pandemi ini. Semua serba online pastinya banyak banget kendala komunikasi yang muncul. Sejauh ini, sebagai wali kelas (walas) dan guru Bahasa Inggris (karena aku lulusan Pendidikan Bahasa Inggris) yang paling sering aku temui di lapangan justru tuntutan walmur ke seorang guru. Yep, buanyaaak banget. Tugas yang minta dikoreksi secepat mungkin (padahal guru tuh manusia ya, punya kapasitas waktu juga), pembuatan soal,
belum lagi tentang si anak dan proses belajarnya, dll, dll. Kok banyak ya, sampai gak bisa disebut satu persatu 😅

Kalau dipikir-pikir ya wajar, orang tua pasti mau yang terbaik buat anaknya. Orang tua mengusahakan yang paling sempurna buat kebutuhan anak-anak mereka. Dengan mimpi dan tujuan supaya kelak kehidupan si anak bisa lebih baik dari kedua orang tuanya. Masuk akal kalau para orang tua menuntut banyak pada bidang pendidikan si anak. Gakpapa, aku pun akan melakukan hal yang sama kelak ke anak-anakku. Jauh banget ya, nikah juga belum. HAHAHA. Itu dari sisi orang tua, sebagai guru aku pun menempatkan diri menjadi orang tua juga biar nggak terlalu emosyi dan bisa berpikir rasional. Mau gimana pun aku ketemu pressure macem gini tiap hari. Walmur juga kan gak cuma satu. Otomatis tuntutannya lebih dari satu.

Lanjut, pertanyaan "boleh marah gak sih ke walmur atau anak murid?" jelas menurutku jawabannya boleh kalau tuntutannya berlebihan dan gak sesuai sama kapasitas kita sebagai seorang guru. Jawaban lainnya, tetap boleh asal gak marah secara langsung ke walmur dan di depan anak murid alias telan dalam-dalam saja kemarahannya. Ini sejalan sih sama ungkapan yang pernah aku dengar,
"Jadi guru itu hatinya harus lapang dan luas"

Bagaimanapun juga profesi guru berhubungan erat sama orang lain. Jelas, profesi ini termasuk dalam bidang jasa yang urusannya sama orang banyak. Kebayang nggak, kalau tiba-tiba kita marah padahal posisinya harus menenangkan. Kita mengikuti emosi sesaat saja yang bisa merusak hubungan selama waktu yang gak bisa ditentukan. Akhirnya emosi yang sudah kita keluarkan sia-sia, kan? Makanya, benar adanya kalau menjadi guru perlu pengelolaan emosi yang baik. Bayangkan lagi, misal kita masih bicara baik dan sopan, mengungkapkan emosi dengan tetap tenang. Gak ada relasi hubungan yang dikorbankan, gak ada pula emosi yang terbuang. Semua disikapi dengan cara yang tenang. 

Gak, sangat gak mudah sama sekali. Butuh waktu untuk bisa tenang di tengah amarah. Akan ada kemungkinan ketenangan kita nggak disambut baik dan memunculkan amarah lain. Terus gimana? Paling enggak kita sudah berusaha semampu dan sebaik yang kita bisa, selebihnya bukan kehendak kita atas respon orang lain. Tetap enjoy dan waras. Karena "Jadi guru itu hatinya harus lapang dan luas." 😄

Masih lanjut yaa adik-adik jurusan pendidikan, mbak-mas guru muda. Ehe.

"Pernah gak ketemu sama anak yang muntah di kelas, belum bisa buang air kecil dan besar sendiri, belum bisa makan sendiri?" 

Tentu saja, pernah :)

Sebagai guru muda yang lulus kuliah langsung memutuskan untuk mengajar, di umur yang 'segini' dan gak nyangka dapat kesempatannya mengajar di SD, um, gak sanggup awalnya. Ditambah belum suka sama anak-anak. Pikirku, lulus kuliah, dapat kerja mengajar di SMP atau SMA sebagai guru Bahasa Inggris. Mengajar remaja dan bukan anak-anak. Tapi, tidak begitu semesta merancangnya. Hahaha.

Dihadapkan sama anak kicil yang belum tau caranya makan sendiri, sana-sini berantakan. Emosyi cyin. 1-10 sebelnya udah di angka 11. Kacau banget 😂. Dari situ belajar buat pelan-pelan menuntun dia untuk pegang sendok di tangan kanan, makan dengan hati-hati, dan merapikan bekas makanan yang tersisa. Bukan cuma mengajar pelajaran, juga mengajar cara bertahan hidup yang paling dasar, makan. Lalu, ada juga anak yang belum bisa buang air kecil dan besar secara mandiri. Aku langsung ingat teman seperjuangan di kampus, yang jurusan PG PAUD, pasti yang dia temui lebih-lebih dari ini. Okay, di kasus itu aku pun belajar dari nol buat nemenin si anak ke toilet, sampai dia sadar bahwa hal basic itu harus dia kuasai sedari dini. Ada juga anak yang spontan muntah di kelas, tanpa aba-aba, langsung keluar saja begitu. Sebagai guru kelasnya rasanya mau nangis saat itu juga. Harus apa dan harus gimana? Emosi sudah memuncak, karna kondisinya pun sedang jam belajar. Tapi tetap harus enjoy, "oh, mungkin si anak sedang kurang enak badan atau sarapannya kebanyakan." Tetap, sikapi dengan tenang. Kejadian kayak gitu sangat nggak terduga. Ampun deh rasanya mau nyerah. Huhu.

Lalu, saat banyak hal nggak enak terlewati. Hari-hari berganti. Aku mengajar sekaligus belajar. Bahagia banget kalau anak muridku bisa ini-itu. Mereka anak-anak yang tulus, hatinya masih bersih, jujur. Aku belajar banyak dari mereka. Anak kelas 1 dan 2 SD yang proses tumbuh kembangnya ternyata seseru itu. Walaupun karakternya beda antara satu anak dengan anak yang lain, tapi anak-anak tetap senang atas pujian sekecil apapun. Aku belajar untuk memberikan apresiasi atas setiap progress anak-anak muridku. Senyumnya yang mengembang, sikapnya yang seolah ingin terus dekat dengan kita sebagai orang tua mereka di sekolah, bahkan tangisnya, dan segala pencapaian mereka atas usaha mereka sendiri. Mata mereka gak bisa bohong. Bahagianya tulus, sungguh. Di situasi seperti itu rasanya haru. Keinginan menyerah hilang sudah. Tergantikan dengan rasa puas, lega. Sederhana tapi bahagia yang tadinya cuma 5 bisa jadi 100. Hari-hari yang tadinya kusut jadi lebih hidup. Warna yang sebelumnya kelabu jadi cerah kembali, merah muda, kuning, oranye, aku merasa kembali hidup. Seperti menemukan makna hidupku sendiri. Menjadi salah satu sumber ilmu dan bahagia anak muridku, menyerap kesederhanaan hati dan emosi dari mereka, pun menjadi yang bermanfaat untuk banyak orang.

Bahagiakah ada di profesi ini? Aku akan tetap menjawab "Iya."

Biar warna kelabu tetap jadi bagiannya, nanti cerahnya hari akan ditemui.

Lain waktu mungkin aku akan banyak cerita lagi tentang pengalaman pekerjaan guru ini. Hihi.

Terima kasih sudah membaca 😊

Komentar