Mula-mula kesepakatan dibuat oleh dua manusia yang mendadak serius. Obrolan yang tidak pernah direncanakan sebelumnya. Beberapa kata (atau mungkin, banyak) keluar begitu saja. Tanpa aba-aba, malam mendadak panas. Dinginnya pergi dibawa pagi. Sempurna. "Aku tidak butuh apa-apa lagi sekarang, selain kamu, aku, dan perbincangan ini akan selamanya disimpan semesta," lirih, dialog dalam isi kepalaku muncul, sementara tatapmu masih di tempat yang sama. Tepat di depan wajahku kamu berikrar atas namamu sendiri. Bahwa kepergianku yang sebentar ini, yang akan melahirkan jarak bukan menjadi masalah besar untuk kita. Bahwa kamu akan menungguku pulang.
Katamu,
Itu hanya, katamu.
Lalu aku mencari kata-kata itu lagi. Di tempat terakhir kita berhadapan, segala cerita yang pernah menggema seisi ruangan itu masih ada, masih ku ingat dengan sangat jelas. Bagusnya, semesta masih menyimpannya. Mungkin, untukku atau untukmu. Asal kamu tahu, bunga matahari yang sempat kamu berikan dulu sudah layu. Kelopaknya makin habis dimakan usia yang memang hanya sementara. "Aku pamit," tembok di depanku mendadak runtuh, pun segala rencana mendadak buram sesaat setelah kamu bilang ingin selesai. Bahkan sebelum kepulanganku.
Air mataku masih sanggup terjaga beberapa hari. Hingga aku dipaksa untuk menghabiskan waktu oleh hal lain, melupakan kata-kata bermakna janji. Lebih baik, memang. Keadaanku berangsur membaik sejak saat itu. Ketahuilah, sulit sekali melakukan banyak hal untuk sekadar tidak mengingat satu nama, dalam setiap harinya. Salah satu yang menuntunku untuk kembali pulang.
Masih ingat, Tuan?
Aku masih mengunjungi tempat terakhir kita berhadapan. Aku di sini. Maukah kamu, membawa Nona itu ke sini dan menceritakan soal kita? Atau, bolehkah aku mengunjungimu untuk mendapat alasan yang sedikit masuk akal dari kata 'selesai' yang kamu ucapkan lantang?
Komentar
Posting Komentar