Kita bisa apa selain tunduk pada masa?
Salah saya yang terlanjur membuat prediksi. Saat pikiran saya sedang mencerna, hati saya menyela. Ia minta didengar. Lirih ucapnya, "dia sanggup menjagamu." Lalu, kesalahan saya paling fatal adalah, mempercayainya dengan penuh. Hati saya menang. Isi kepala saya mulai takluk. Adalah kesalahan yang menyenangkan pada waktu kamu mengatakan semua hal manis berlapis janji-janji. Dustamu belum kentara, Tuan. Atau saya yang terkecoh, bahwa sebenarnya semua telah jelas dari awal, hanya saja kamu terlalu pintar menutupi goresan yang menjadi lukaku saat ini.
Entah sudah usaha saya yang kesekian, rasanya. Menjaga apa yang seharusnya masih baik-baik saja. Merindukan apa yang seharusnya masih menjadi kesayangan. Maka, merelakan inilah satu-satunya cara terbaik yang bisa saya lakukan, pada akhirnya. Semua premis mendadak berkumpul, harapnya segera direnungkan. Sebab, bagaimana bisa selesai, jika kamu saja sudah tak mau menjawab. Bahkan, mendengar pun enggan. Mungkin, memang sudah waktunya saya pergi dari apa yang pernah kamu sebut paling berarti.
Terima kasih, saya tidak akan pernah sanggup membencimu, tenanglah. Saya akan menganggap kita adalah sebuah kesalahan yang memaksa untuk dipersatukan. Iya, kamu yang memaksanya di awal dengan semua bualanmu. Lalu, saya yang melanjutkan untuk sekiranya mempertahankan, hingga akhir hubungan yang dipaksa selesai. Alur kita tidak rumit, Tuan. Hanya soal waktu, sampai saya menyadari bahwa ada hal kecil yang mengganjal, yang sebenarnya sudah ada dari awal kita memulai... semuanya.
Komentar
Posting Komentar