
Mungkin saya akan lebih sering berbagi lewat maya. Lebih sering menulis dan mempublikasikannya, atau malah tidak. Biar pembaca saya jenuh oleh tiap sendu keluh kesah yang saya suguhkan. Hingga pada akhirnya semua akan paham dengan sendirinya. Bahwa air mata bukan hanya tentang kesedihan, melainkan juga kekuatan. Kadang untuk menjadi orang yang lebih tangguh dari yang bisa kita bayangkan adalah dengan melewati banyak tangisan. Entah sudah pagi ke berapa, saya terbangun dengan bekas air mata di pipi. Saya temui basahnya sudah mengering saat saya bahkan belum sempat menyekanya.
Di kota yang memiliki Pantai Losari dan Fort Rotterdam-nya yang terkenal, saya menjadi salah satu mahasiswi yang mengabdi. Berbekal pengetahuan yang seadanya, serta mental yang tidak seberapa. Saya menempuh perjalanan cukup jauh untuk menyelesaikan salah satu syarat untuk bisa lulus jenjang Strata 1. Di kota Makassar. Benar-benar menjadi diri sendiri di kampung orang. Bukan hal yang mudah. Meskipun di zaman now yang apa-apanya serba click! and you got what you need, seperti transportasi atau makanan yang bisa dengan gampangnya didapat tanpa harus keluar rumah, tetap saja ada hal yang mengganjal. Ada perbedaan, entah budaya, kebiasaan, suhu, cuaca, yang menjadikan kota ini kian asing dari hari ke hari. Itulah, saya belum sepenuhnya meninggalkan kota tempat tinggal saya. Mungkin raga saya sudah, tapi jiwa saya masih.
Kembali saya meminta izin pada Tuhan agar selama di sini saya diberi perlindungan dari apapun yang akan terjadi dan belum terjadi. Pun dari segala sesuatu yang akan saya lakukan dan tidak. Juga, satu hal lagi yang saya pikir akan menyelamatkan psikis saya selama di sini. Coto Makassar di seberang masjid salah satu pertigaan jalan Talasalapang. Sejauh ini, hanya itu. Hari selanjutnya, saya harus mencari kenyamanan lain di kota ini. Agar jiwa saya mau sekiranya pindah sebentar ke sini. Hingga beberapa bulan ke depan. Lalu selanjutnya, terserah semesta mau membuat saya rindu pada kampung yang mana.
"Isi dari sebuah perjalanan, adalah tangisan, kerinduan, kelemahan, ketidakberdayaan, keputusasaan, tapi juga kekuatan, kenyamanan, ketabahan, lebih-lebih rasa syukur yang tiada henti. Dari itu semua, maka perjalanan adalah sebuah pendewasaan pikiran."
sumber gambar:
Komentar
Posting Komentar